Cerita Larangan Beredar Novel Bumi Manusia Hingga di Buat Film

Artikel kali ini saya mencoba membahas tentang buku buah karya dari Pramoedya Ananta Toer yang begitu banyak cerita dan kisahnya, berikut ini saya kutip dari halaman Wikipedia tentang Bumi Manusia.

Buku Bumi Manusia ini dilarang terbit oleh Kejaksaan Agung pada tahun 1981, dengan tuduhan mempropagandakan ajaran-ajaran yang disebut Marxisme dan Komunisme, padahal dalam buku tersebut tidak ada sebutan itu sedikitpun tentang ajaran yang dituduhkan, yang disebut dalam buku itu hanya Nasionalisme.

Awalnya Percetakan yang bernama Ampat Lima yang memproduksi Bumi Manusia diminta supaya tidak mencetak terbitan Hasta Mitra. Selain itu Redaktur media masa dihubungi untuk tidak memuat resensi apalagi pujian untuk karya Pramoedya tersebut.

Sejarah tercatat pada April 1981 beberapa oraganisasi kepemudaan yang dibentuk Orde Baru menggelar diskusi yang berisikan kecaman kepada karya Prammoedya. Dari hasil diskusi yang kemudian disiarkan melalui media masa sebagai bukti keresahan masyarakat, dengan modal itulah Kejaksaan Agung menetapkan larangan terbit. Tidak hanya itu surat kabar yang mendukung Orde Baru seperti Sura Karya, Pelita dan Karya Dharma mulai menerbitkan kecaman kepada Bumi Manusia dan Pengarangnya.

Pada waktu itu Ikatan Penerbit Indonesia akan menyelenggarakan pameran buku tahunan, tapi secara tiba-tiba panitia mengirimkan surat pembatalan surat tersebut yang dikirimkan ke alamat Hasta Mitra. 

Padaha awalnya IKAPI selaku panitia sangat bergairah mengajak penerbit tersebut menjadi anggota dan ikut serta dalam kegiatan yang diselenggarakan. Dari situ surat kabar yang semula memiliki simpati semakin jarang yang memberikan tempat dan bahkan ceritanya tulisan yang sudah siap untuk dicetak pun dibatalkan, hanya karena alasan penulisnya memuji karya Pramoedya.

Pada akhir Mei 1981, Jaksa Agung mengeluarkan SK-052/JA/5/1981 dalam surat tersebut berisikan pelarangan Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa untuk terbit. Dalam surat tersebut antara lain keputusan politik yang tidak ada kaitannya dengan nilai sastra, argumentasi ilmiah dan serta alasan-alasan yang di keluarkan sebelumnya.

Semua agen dan juga toko buku didatangi oleh Kejaksaan Agung yang akan menyita semua buku Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa. Ada juga yang berinisiatif untuk menyerahkan langsung dengan suka rela. Sampai Agustus 1981 buku yang terkumpul di Kejaksaan Agung hanya berjumlah 972 dari sekitar 20.000 buku yang beredar waktu itu.

Di bulan September 1981, penerjemah Bumi Manusia ke dalam bahasa Inggris oleh Maxwell Lane, yang juga staf kedutaan besar Australia yang tinggal di Jakarta, dipulangkan oleh pemerintahnya. Kemudian perusahaan Ampat Lima yang mencetak dari dua karya pertama yang ahirnya juga memilih mundur karena tekanan dari kejaksaan dan aparat keamanan pada waktu itu.

Pementasan Teater

Buku Bumi Manusia yang sempat dipentaskan dalam bentuk teater dengan mengambil tokoh Nyai Otosonoh pada bulan Desember 2006 di 12 kota secara serentak berikut daftar kota yang mengadakan pertunjukan teater:

Padang, Lampung, Bandung, Semarang, Solo, Jogja, Surabaya, Denpasar, Mataram, Makassar, Kendari, dan Pontianak.

Dibuat Film

Bumi Manusia juga akan di filmkan kabar ini sejak tahun 2004 yang proses pembuatannya sudah mulai dilakukan. Hatoek Soebroto, seorang produser film dan bersama PT Elang Perkasa telah menandatangani kontrak pembuatan film tersebut dengan pihak keluarga Pramoedya, pada 3 September 2004.

PT Elang Perkasa bekerja sama dengan perusahaan film milik Deddy Mizwar Citra Sinema dalam proses pembuatanya. Pencarian lokasi yang sudah dimulai sejak akhir tahun 2015 kemudian awal 2006 proses produksi dimulai dengan penulisan sekenarionya oleh Juju Prananto (penulis Ada Apa Dengan Cinta?), Sutradaranya Garin Nugroho.

Belum selesai disitu pada 24 Mei 2018, di selegarakannya konferensi pers yang isinya pengumuman bahwa Bumi Manusia akan di filemkan oleh Falcon Picture dengan Sutradara Hanung Bramantyo. Sosok Minke yang akan diperankan oleh Iqbaal Ramadhan, Annelis Mellema akan diperankan oleh Mawar de Jongh, dan Sha Ine Febriyanti sebagai Nyai Ontosoroh.

Informasi ini dikutip dari halaman wikipedia https://id.wikipedia.org/wiki/Bumi_Manusia_(novel)#Menerbitkan_karya_eks-tapol

Belum ada Komentar untuk "Cerita Larangan Beredar Novel Bumi Manusia Hingga di Buat Film"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel